Langkah awal menyusun strategi keberlanjutan perusahaan sering kali terdengar kompleks, mahal, dan hanya relevan bagi perusahaan besar. Padahal, di tengah tekanan regulasi, ekspektasi investor, dan kesadaran publik yang semakin kritis, keberlanjutan bukan lagi sekadar wacana moral. Ia telah menjadi kebutuhan strategis. Artikel ini menyajikan panduan menyusun strategi keberlanjutan yang realistis, terukur, dan dapat diterapkan oleh perusahaan lintas sektor dari UMKM hingga korporasi besar.
Dalam struktur piramida terbalik, artikel ini dimulai dari gambaran besar urgensi strategi keberlanjutan, lalu mengerucut pada langkah-langkah praktis yang dapat segera dilakukan.
Baca Juga : Apa Itu Konsultasi Keberlanjutan dan ESG
Mengapa Strategi Keberlanjutan Tidak Bisa Ditunda?
Keberlanjutan perusahaan kini berada di persimpangan antara etika dan bisnis. Menurut John Elkington, pencetus konsep Triple Bottom Line, perusahaan modern tidak lagi cukup hanya mengejar profit, tetapi juga harus memperhatikan dampak sosial (people) dan lingkungan (planet). Ketiganya harus berjalan seimbang agar bisnis dapat bertahan dalam jangka panjang.
Di Indonesia, urgensi ini diperkuat oleh regulasi. Peraturan OJK No. 51/POJK.03/2017 secara eksplisit mewajibkan lembaga jasa keuangan, emiten, dan perusahaan publik untuk menerapkan keuangan berkelanjutan serta menyusun laporan keberlanjutan. Artinya, keberlanjutan bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban hukum bagi entitas tertentu.
Lebih jauh, riset McKinsey (2020) menunjukkan bahwa perusahaan dengan kinerja ESG yang baik cenderung memiliki risiko operasional lebih rendah dan kepercayaan investor yang lebih tinggi. Fakta ini menegaskan bahwa strategi keberlanjutan adalah instrumen manajemen risiko sekaligus pengungkit nilai perusahaan.
Sumber : Peraturan OJK No. 51/POJK.03/2017
Memahami Keberlanjutan Secara Kontekstual
Kesalahan umum perusahaan adalah menyalin strategi keberlanjutan dari perusahaan lain tanpa memahami konteks internalnya. Padahal, strategi yang efektif selalu berangkat dari realitas bisnis masing-masing.
Michael Porter dan Mark Kramer melalui konsep Creating Shared Value menekankan bahwa keberlanjutan harus terintegrasi dengan model bisnis inti, bukan ditempel sebagai program filantropi semata. Dengan kata lain, strategi keberlanjutan harus menjawab dua pertanyaan mendasar: dampak apa yang dihasilkan perusahaan, dan bagaimana dampak tersebut memengaruhi keberlangsungan bisnis itu sendiri.
Langkah Awal Menyusun Strategi Keberlanjutan Perusahaan
1. Melakukan Pemetaan Dampak dan Risiko (Impact & Risk Assessment)
Langkah pertama adalah mengidentifikasi dampak lingkungan, sosial, dan tata kelola yang paling relevan dengan aktivitas perusahaan. Pendekatan materiality assessment membantu perusahaan fokus pada isu yang benar-benar signifikan, bukan sekadar populer.
2. Menyelaraskan Strategi dengan Visi dan Nilai Perusahaan
Strategi keberlanjutan yang kuat selalu berakar pada visi perusahaan. Tanpa keselarasan ini, program keberlanjutan berisiko menjadi proyek jangka pendek yang mudah ditinggalkan saat tekanan bisnis meningkat.
3. Menetapkan Tujuan yang Realistis dan Terukur
Tujuan keberlanjutan sebaiknya mengikuti prinsip SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound). Misalnya, pengurangan emisi 20% dalam lima tahun jauh lebih bermakna dibanding pernyataan “menjadi perusahaan ramah lingkungan”.
4. Mengintegrasikan ESG ke dalam Proses Bisnis
Keberlanjutan tidak boleh berdiri sendiri. Ia perlu masuk ke proses pengadaan, operasional, manajemen SDM, hingga pengambilan keputusan investasi. Integrasi ini membuat strategi lebih konsisten dan berkelanjutan.
5. Menyiapkan Sistem Monitoring dan Pelaporan
Tanpa data, strategi keberlanjutan hanya menjadi narasi. Standar seperti GRI (Global Reporting Initiative) dapat digunakan sebagai acuan pelaporan agar kinerja keberlanjutan dapat diukur, dievaluasi, dan dikomunikasikan secara transparan.
Kerangka Regulasi yang Perlu Diperhatikan
Selain POJK 51/2017, perusahaan di Indonesia juga perlu memperhatikan UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, khususnya Pasal 74 yang mewajibkan tanggung jawab sosial dan lingkungan bagi perusahaan yang bergerak di bidang atau berkaitan dengan sumber daya alam.
Di tingkat global, standar ESG juga merujuk pada UN Sustainable Development Goals (SDGs) yang menjadi panduan arah pembangunan berkelanjutan hingga 2030. Keselarasan dengan SDGs membantu perusahaan berbicara dalam “bahasa global” yang dipahami investor dan mitra internasional.
FAQ’s
Apa itu strategi keberlanjutan perusahaan?
Strategi keberlanjutan adalah pendekatan sistematis untuk mengelola dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan agar bisnis tetap relevan dan bertahan jangka panjang.
Mengapa strategi keberlanjutan penting?
Karena keberlanjutan meningkatkan ketahanan bisnis, kepatuhan regulasi, dan kepercayaan pemangku kepentingan.
Siapa yang bertanggung jawab menyusunnya?
Tanggung jawab utama ada pada manajemen puncak, namun implementasinya melibatkan seluruh fungsi perusahaan.
Kapan strategi ini harus disusun?
Sejak dini, bahkan sebelum perusahaan diwajibkan regulasi, agar adaptasi berjalan lebih mulus.
Di bagian mana strategi diterapkan?
Di seluruh rantai nilai perusahaan, mulai dari hulu hingga hilir.
Bagaimana langkah awal menyusunnya?
Dimulai dari pemetaan dampak, penetapan tujuan, integrasi ke proses bisnis, dan pelaporan berkala.
Kesimpulan
Langkah awal menyusun strategi keberlanjutan perusahaan bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang memulai dengan jujur, realistis, dan terukur. Perusahaan yang berhasil adalah mereka yang memahami bahwa keberlanjutan bukan biaya tambahan, melainkan investasi strategis untuk masa depan.
Jika perusahaan Anda belum memiliki peta jalan keberlanjutan yang jelas, sekarang adalah waktu yang tepat untuk memulainya. Evaluasi dampak bisnis Anda hari ini, susun strategi yang relevan, dan jadikan keberlanjutan sebagai keunggulan kompetitif bukan sekadar kewajiban.