Di tengah meningkatnya tuntutan tata kelola dan transparansi, peran compliance officer dan auditor dalam kepatuhan perusahaan menjadi semakin krusial. Tidak hanya untuk memastikan perusahaan patuh terhadap regulasi, tetapi juga untuk menjaga reputasi, keberlanjutan bisnis, dan kepercayaan pemangku kepentingan. Dalam praktiknya, kepatuhan bukan sekadar memenuhi kewajiban hukum, melainkan bagian dari budaya organisasi yang sehat.
Artikel ini membahas bagaimana compliance officer dan auditor baik internal maupun eksternal berperan dan berkolaborasi dalam menjaga kepatuhan perusahaan, dengan merujuk pada pandangan para ahli serta kerangka hukum yang berlaku di Indonesia.
Mengapa Kepatuhan Menjadi Isu Strategis?
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak kasus pelanggaran hukum dan etika bisnis yang berujung pada sanksi besar, kerugian finansial, hingga runtuhnya kepercayaan publik. Menurut OECD, sistem kepatuhan yang efektif adalah fondasi good corporate governance yang mampu mencegah risiko hukum dan operasional sebelum terjadi.
Di Indonesia, kepatuhan perusahaan juga menjadi perhatian regulator. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas menegaskan kewajiban direksi dan komisaris untuk menjalankan perusahaan sesuai peraturan perundang-undangan. Di sinilah peran compliance officer dan auditor menjadi garis pertahanan utama.
Baca Juga : Audit Kepatuhan Pengertian Ruang Lingkup dan Contohnya
Peran Compliance Officer: Garda Terdepan Kepatuhan
Compliance officer bertanggung jawab memastikan seluruh aktivitas perusahaan sejalan dengan hukum, regulasi, dan kebijakan internal. Menurut Society of Corporate Compliance and Ethics (SCCE), compliance officer berfungsi sebagai trusted advisor bagi manajemen dalam mengelola risiko kepatuhan.
Secara komprehensif, peran compliance officer meliputi:
- Identifikasi dan pemetaan risiko kepatuhan
Compliance officer melakukan penilaian risiko terhadap potensi pelanggaran hukum, baik yang bersumber dari regulasi eksternal maupun kebijakan internal perusahaan. - Penyusunan dan sosialisasi kebijakan kepatuhan
Mereka merancang compliance program, kode etik, dan standar perilaku yang relevan dengan karakteristik bisnis perusahaan. - Monitoring dan pelaporan
Kepatuhan dipantau secara berkelanjutan, termasuk pelaporan kepada manajemen dan, bila diperlukan, kepada regulator. - Pendidikan dan budaya kepatuhan
Compliance officer juga berperan membangun kesadaran karyawan agar kepatuhan tidak dipandang sebagai beban administratif, melainkan sebagai nilai bersama.
Dalam sektor tertentu seperti perbankan, peran ini bahkan diwajibkan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui POJK No. 46/POJK.03/2017 mengatur fungsi kepatuhan bank secara tegas, termasuk independensi compliance officer.
Peran Auditor: Penilai Independen dan Objektif
Berbeda dengan compliance officer yang bersifat preventif, auditor berperan memberikan penilaian independen atas efektivitas sistem kepatuhan. Institute of Internal Auditors (IIA) menegaskan bahwa audit internal merupakan aktivitas assurance dan consulting yang dirancang untuk menambah nilai dan meningkatkan operasi organisasi.
Peran auditor dalam konteks kepatuhan antara lain:
- Evaluasi sistem pengendalian internal
Auditor menilai apakah kebijakan dan prosedur kepatuhan telah dirancang dan dijalankan secara efektif. - Pengujian kepatuhan terhadap regulasi
Melalui audit kepatuhan, auditor menguji kesesuaian praktik perusahaan dengan peraturan perundang-undangan. - Pemberian rekomendasi perbaikan
Temuan audit menjadi dasar perbaikan sistem dan penguatan tata kelola. - Menjaga independensi dan objektivitas
Auditor internal harus independen dari fungsi operasional, sedangkan auditor eksternal memberikan sudut pandang pihak ketiga yang netral.
Landasan hukum peran auditor dapat ditemukan, antara lain, dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2011 tentang Akuntan Publik serta standar audit yang ditetapkan oleh IAPI.
Kolaborasi Compliance dan Audit Internal: Kunci Efektivitas
Efektivitas kepatuhan tidak akan tercapai tanpa kolaborasi compliance dan audit internal yang sehat. Meski memiliki fungsi berbeda, keduanya saling melengkapi.
Compliance officer fokus pada perancangan dan implementasi sistem, sementara auditor menilai apakah sistem tersebut berjalan sebagaimana mestinya. IIA menyarankan adanya koordinasi yang jelas agar tidak terjadi duplikasi pekerjaan maupun konflik peran.
Kolaborasi ini dapat diwujudkan melalui:
- Pertukaran informasi risiko kepatuhan
- Penyelarasan rencana kerja tahunan
- Diskusi temuan dan tindak lanjut perbaikan
Dengan kolaborasi yang tepat, perusahaan dapat membangun three lines model yang solid: manajemen operasional, fungsi kepatuhan, dan audit internal.
Tantangan dalam Praktik Kepatuhan
Meski peran sudah jelas, implementasi di lapangan tidak selalu mudah. Beberapa tantangan yang sering muncul meliputi keterbatasan sumber daya, rendahnya komitmen manajemen, serta budaya organisasi yang belum mendukung kepatuhan.
Menurut COSO, tanpa tone at the top yang kuat, sistem kepatuhan berisiko hanya menjadi formalitas. Oleh karena itu, dukungan direksi dan komisaris sangat menentukan keberhasilan peran compliance officer dan auditor.
FAQ‘s
Apa perbedaan utama compliance officer dan auditor?
Compliance officer bersifat preventif dan berfokus pada pengelolaan kepatuhan sehari-hari, sedangkan auditor bersifat evaluatif dan memberikan penilaian independen.
Apakah semua perusahaan wajib memiliki compliance officer?
Tidak semua, tetapi pada sektor tertentu seperti perbankan dan pasar modal, fungsi kepatuhan diwajibkan oleh regulator.
Bagaimana cara menghindari konflik peran antara compliance dan audit internal?
Dengan pembagian tugas yang jelas, koordinasi rutin, dan mengacu pada standar profesional masing-masing.
Apakah auditor boleh terlibat dalam penyusunan kebijakan kepatuhan?
Auditor dapat memberikan masukan, tetapi tidak boleh terlibat langsung dalam pengambilan keputusan operasional agar independensinya tetap terjaga.
Kesimpulan
Peran compliance officer dan auditor dalam menjaga kepatuhan perusahaan tidak dapat dipisahkan. Compliance officer memastikan sistem kepatuhan dirancang dan dijalankan, sementara auditor menilai efektivitasnya secara independen. Dengan kolaborasi yang tepat, keduanya menjadi pilar penting dalam tata kelola perusahaan yang sehat dan berkelanjutan.
Jika perusahaan Anda ingin memperkuat sistem kepatuhan atau menyelaraskan fungsi compliance dan audit internal secara efektif, konsultasi dengan ahli tata kelola dan audit independen dapat menjadi langkah strategis berikutnya.